Senin, 28 Mei 2012

Catenaccio Di Matteo


Musim 2011/2012 adalah musim yang sangat mengesankan bagi Chelsea. Meski sempat bermain buruk di awal musim ditambah dengan konflik pelatih Villas Boas dengan para pemain. Performa permainan yang tidak terkordinir dan tidak stabil membuat Chelsea menjadi tim yang tidak diperhitungkan baik di liga domestik, piala FA dan Liga Champion. Di tangan Villas Boas permainan Chelsea tidak menjanjikan. Terbukti Chelsea berada di papan tengah klasemen Liga Inggris. Kondisi ini diperburuk dengan konflik yang terjadi antara Villas Boas dengan pemain senior Chelsea, yang berujung dipecatnya Villas Boas dan digantikan dengan Roberto Di Matteo yang ketika itu menjadi asisten pelatih.
            Datang sebagai Caretaker, sebagian orang tidak menyangka Di Matteo mampu membawa Chelsea menjadi tim yang kembali kuat. Pelan-pelan Chelsea menunjukkan performa terbaiknya, walaupun hanya finish diurutan ketujuh. Tetapi Chelsea menjawabnya dengan menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Liverpool 2-1 di Wembley. Tangan dingin Di Matteo membuat serangan Chelsea lebih teratur, tersusun dengan rapi, lebih disiplin dalam bertahan dan yang paling penting mental pemain Chelsea menjadi lebih kuat. Fakta yang paling menarik Di Matteo mampu menjungkirbalikkan opini masyarakat bahwa Chelsea akan dikalahkan dengan skor telak di Camp Nou dalam leg ke 2 semifinal Liga Champion. Dipartai tersebut Di Matteo menggunakan strategi ala Italia yang terkenal dengan istilah Catenaccio. Catenaccio adalah sistem taktis di sepak bola dengan penekanan pada pertahanan. Di Italia, catenaccio berarti "pintu-baut", menyiratkan pertahanan backline sangat terorganisir.
            Sistem pertahanan gerendel, membuat pertahanan seperti tembok yang sulit diruntuhkan sehingga membuat pemain lawan frustasi untuk mencetak gol. Itu yang dilakukan Di Matteo ketika menghadapi Barca di semifinal leg 2 dan Muenchen di final. Dalam strategi Catenaccio counter attack menjadi senjata ampuh untuk mencetak gol ke gawang lawan. Di Matteo paham benar dengan taktik ini. Karena sejatinya ia adalah orang Italia dan juga mantan pemain timnas Italia. Italia saat itu seringkali menerapkan strategi Catenaccio baik dalam Piala Eropa atau Piala Dunia. Apalagi Italia di topang oleh bek-bek tangguh dan kiper berkelas.
            Lambat laun strategi ini dianggap sebagai sepakbola negatif, karena dianggap dapat menghilangkan keindahan dalam permainan sepakbola. Walaupun dianggap sebagai sepakbola negatif, ini adalah sebuah taktik dari seorang pelatih. Dan itu sah-sah saja selama Fifa tidak melarang.
           

Minggu, 29 April 2012

Arti Lambang Komunis


Artikel ini saya angkat karena saya menjumpai beberapa thread tentang munculnya kembali PKI di tanah air. Karena rasa penasaran, saya searching beberapa narasumber dan menemukan fakta-fakta menarik yang belum saya ketahui sebelumnya.









Lambang "sakral" ini membuat sebagian orang yang melihat merinding melihatnya maupun mendengarnya, teringat "sejarah" masa lalu yang kelam PKI dipelajaran sekolah waktu duduk di bangku SD. Puncak-puncaknya pada masa pemerintahan Soeharto.

 Jadi  teringat dulu ada yang bilang:
"huss.. jangan bawa gambar nanti ditangkap/diculik/dibunuh loh?"
dan apabila ada gambar tokoh yang dibenci terutama tokoh politik dicoret logo tersebut diatasnya yang menandakan penghinaan sebesar-besarnya (maksud yang mencoret), bahkan ada yang mengidentikkan lambang palu arit ini ibarat senjata tajam yang mencerminkan kekejaman, kekerasan dan merah ibarat kekuasaan dan pertumpahan darah???

Lambang palu dan sabit yang menjadi simbol dari komunis memiliki sejarah yang tidak ada hubungannya dengan komunisme. Simbol palu mewakili para buruh dan sabit mewakiti para petani. Setelah revolusi industri di Eropa, kaum buruh dan petani semakin terpinggirkan dan tertindas. Simbol palu dan sabit yang menyilang muncul sebagai bentuk pengkomunikasian bersatunya kaum buruh dan petani dalam revolusi Bolshevik tahun 1917 di Rusia. Di tahun-tahun berikutnya, lambang palu dan sabit menjadi simbol pemberontakan, bahkan sampai sekarang.










Gambar monumen patung buruh dan petani 

Revolusi para pekerja yang tergolong kalangan bawah tersebut mengundang perhatian dunia. Mereka yang menyepelekan kaum pekerja tidak mengira akan kekuatan yang dimiliki oleh persatuan kaum buruh dan petani. Pihak komunis-sosialis, yang sebelumnya menggunakan bendera merah atau sering dikenal dengan tentara merah, memanfaatkan simbol pekerja tersebut sebagai lambang bendera partai komunis. Tahun 1922 penggunaan lambang palu dan sabit menyilang dengan latar belakang merah diresmikan menjadi bendera komunis di seluruh dunia.

Simbol merupakan kode untuk berkomunikasi atau pertukaran informasi dalam interaksi sosial. Dari uraian diatas, simbol muncul dalam bentuk lambang palu dan sabit, berupa artefak bendera, atribut, dan lainnya. Peran Artefak dalam Pertukaran Informasi yaitu:
-Sebagai simbol wilayah kekuasaan & sosial
-Sebagai simbol penguat kesatuan etnik
-Sebagai simbol pemeliharaan dan penguatan jaringan pencarian pasangan hidup
-Sebagai simbol penguatan hubungan antar masyarakat
-Sebagai simbol kedudukan struktural

Pada awalnya, para buruh dan petani menyampaikan eksistensi mereka dalam revolusi melalui simbol palu dan sabit. Simbol ini kemudian menjadi identitas para pekerja kasar sebagai solidaritas, pemersatu dan penguat hubungan antar masyarakat. Apabila revolusi yang dilakukan tidak memunculkan simbol, maka akan sulit untuk menunjukkan keberadaan kaum buruh dan petani di mata dunia, serta sulit untuk menggerakkan kaum pekerja yang lain. Dengan demikian simbol palu dan sabit memiliki arti penting dalam penyampaian pesan revolusi.










Besarnya pengaruh revolusi palu dan sabit mengakibatkan orang mengidentikkan lambang palu dan sabit sebagai simbol pemberontakan. Dalam perkembangannya, simbol palu dan sabit tidak hanya digunakan oleh kaum pekerja tapi juga kaum borjuis (pelajar) saat menolak kebijakan pemerintah. Simbol ini juga digunakan oleh kaum sosialis yang menjunjung tinggi kesetaraan status.

Tahun 1922, tentara merah meresmikan simbol palu dan arit yang menyilang dimasukkan ke dalam lambang bendera partai politiknya. Lambang ini memiliki makna bahwa partai komunis menjunjung tinggi para pekerja kasar. Dari sini diharapkan pendukung partai dapat dihimpun dari para buruh dan petani yang cenderung memiliki massa lebih banyak.
Simbol palu dan sabit berubah fungsi dan makna sesuai dengan perkembangan jaman. Makna yang semula dikomunikasikan melalui simbol palu dan sabit berubah interpretasinya sesuai dengan kondisi jaman dan pengalaman sejarah.

Di Indonesia, sejak peristiwa G 30 S PKI, simbol palu dan sabit menjadi tabu karena diinterpretasikan dengan komunis yang ingin menghancurkan Indonesia dari dalam. Namun setelah lengsernya pemerintahan orde baru, simbol palu dan sabit mulai bermunculan lagi dalam berbagai bentuk dan lambang. Interpretasi orang saat ini bisa beraneka macam terhadap simbol tersebut. Ada yang mengartikan sebagai penganut komunis, penganut sosialis, lambang revolusi, bentuk protes terhadap pemerintahan, dan lainnya. Semua makna tidak salah, kembali ke pengertian simbol yang memiliki banyak arti, dan hanya dipahami oleh manusia, sehingga yang bersangkutan dituntun untuk memahami objek untuk mengetahui makna yang terkandung dalam simbol tersebut.

Lambang Komunis lainnya:

RED STAR









Bintang merah yang berujung lima adalah lambang komunisme serta sosialisme yang lebih umum. Yang melambangkan kelima jari tangan pekerja, serta kelima benua. Bintang berujung lima dimaksudkan untuk mewakili kelima kelompok sosial yang akan membawa Rusia ke komunisme: kaum muda, militer, industri , buruh petani, dan cendekiawan.

Bintang merah adalah salah satu lambang, simbol, dan tanda yang mewakili Uni Soviet di bawah kekuasaan dan bimbingan Partai Komunis, serta palu dan arit. Juga dipakai sebagai lencana di kamp tawanan Jerman pada saat itu di bawah Hitler dan WWII (perang dunia 2) untuk menandakan komunis.

 RED FLAG








Bendera merah sering dikombinasi dengan lambang komunis dan nama partai lain. Bendera dipakai di berbagai komunis dan sosialis seperti May Day. Bendera juga biasanya dihubungkan dengan sosialisme.

Bendera merah mempunyai banyak arti di sejarah tetapi terlebih dulu dipakai sebagai sehelai bendera pembangkangan. Bendera merah mendapat arti politik modernnya di Revolusi Perancis 1871. Sesudah Revolusi Oktober, pemerintah Uni Soviet mengambil bendera merah dengan palu dan arit yang dilapiskan keatas sebagai bendera nasionalnya. Karena Revolusi Oktober, berbagai negara bagian sosialis dan pergerakannya sudah memakai bendera merah.





Kita harus belajar sejarah lagi dengan benar.


Yang terjadi pada tahun 1965 adalah:

1. Penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal.

Tetapi sampai sekarang masih tidak diketahui dengan pasti siapa dalangnya. Sedikit mengenai penculikan dan pembunuhan ini; koran Angkatan Bersenjata (Berita Yudha) melaporkan bahwa selain pembunuhan juga terjadi penyiksaan terhadap jenderal-jenderal tersebut. Tetapi berita tersebut dikeluarkan sebelum hasil visum dari FKUI keluar. Dan setelah hasil visum dari FKUI keluar ternyata justru tidak ditemukan sedikitpun penyiksaan terhadap para jenderal tersebut. Laporannya adalah mereka mati karena ditembak. Waktu itu hasil visumnya ditahan oleh pihak Angkatan Bersenjata. Tetapi kemudian berhasil "dilarikan" ke luar negeri oleh Indonesianis Benedict Anderson (Cornell University), sehingga kita bisa baca hingga hari ini.

2. Penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan

Dilakukan terhadap banyak sekali anggota PKI, simpatisan PKI, orang-orang yang dekat dengan PKI, dan orang-orang yang dicurigai sebagai PKI; dengan tanpa pengadilan.

Ya, korbannya justru adalah orang-orang PKI. Ada banyak tafsiran untuk jumlah korban. Ada yang menyebut ratusan ribu orang. Ada yang menyebut sejuta orang. Bahkan menurut Letjen. Sarwo Eddie sendiri, yang ditugaskan untuk "menumpas" PKI, korbannya mencapai 3 juta orang.

Bahkan sekadar orang (bukan PKI sama sekali) yang sedang membawa buku berbahasa Russia untuk dikembalikan ke perpustakaan universitas pun ikut ditangkap dan dikirim ke pulau Buru selama belasan tahun (baca: Kresno Saroso - Dari Salemba ke Pulau Buru).

Ada banyak sekali anggota Gerwani yang diperkosa, disiksa, dan dibunuh, dipenjarakan tanpa pengadilan. Gerwani ini apa? Organisasi satanistik seperti di film G/30S itu? Ngaco! Gerwani adalah organisasi perempuan PKI.

Ratusan ribu orang lainnya dipenjara, disiksa, dan dipekerja-paksakan sebagai Tapol di pulau Buru selama puluhan tahun. Mereka dan anak-anaknya mendapat perlakuan diskriminatif sampai saat ini. Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu korbannya.

Siapa yang melakukan itu semua? ABRI, dibantu oleh ormas-ormas semacam Banser NU. Ini bukan fitnah, karena masih ingatkah Gus Dur sendiri sewaktu dia masih menjadi presiden pernah mengatakan bahwa dia (Gus) sudah meminta maaf kepada korban-korban 1965 sejak dari sewaktu dia menjadi ketua NU. Ini perkataan dia di TVRI waktu itu: "Dari dulu pun, saya sudah minta maaf. Bukan sekarang saja, tanyakan pada teman-teman di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Saya sudah meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi terhadap orang-orang yang dikatakan sebagai komunis." (dikutip dari Kompas 15 Maret 2000)

Cobalah tanya ke orang-orang yang sudah hidup pada zaman itu. Apa yang terjadi di jalan-jalan? Mayat siapa yang tergeletak tak diurus sedikitpun seperti binatang di pinggir jalan? Apa yang terjadi di hari itu? Siapa yang dibantai?

Cari sumbernya di internet; bukan main banyaknya.

3. "Kudeta" terhadap Presiden Sukarno

Yang kita tahu mulai dari peristiwa itu, Sukarno perlahan-lahan menjadi terkebiri. Entah dengan Supersemar. Kemudian Soeharto menjadi pejabat presiden, dan akhirnya resmi menjadi presiden.

Banyak yang bilang bahwa PKI hendak mengkudeta Sukarno. Bagaimana bisa?? PKI mesra sekali hubungannya dengan Sukarno waktu itu. Mengkudeta Sukarno berarti mengkudeta diri sendiri.

Ah. Tetapi poin ke-3 ini memang sudah menyertakan analisis. Cobalah dulu untuk mempelajari poin 1 dan 2. Tidak diperlukan analisis sedikitpun, semuanya cuma fakta-fakta yang sudah tercatat dalam sejarah. Hanya kita saja di Indonesia yang dibutakan dari fakta-fakta tersebut.

***

Kalau di dalam negeri kita mengenal komunisme di Indonesia hanya sebagai setan paling najis di muka bumi, tidak begitu menurut sumber-sumber yang lebih independen. Coba baca buku-buku sejarah yang bukan keluaran resmi pemerintah. Bukan buku stensilan juga kok, baca karya-karya Indonesianis asing seperti Benedict Anderson, Harry A. Poeze, Rudolf Mrazek, dll - atau Asvi Warman Adam yang dari Indonesia; coba periksa siapa itu PKI. Apa perannya dalam kemerdekaan Indonesia? Siapa itu Tan Malaka? Siapa itu pemuda-pemuda yang "menculik" dan mendesak Sukarno untuk proklamasi - kenapa sejarahnya tidak pernah dibahas? Apa itu pemberontakan 1926 di Banten? 1927 di Silungkang? Dan seabrek-abrek informasi lain yang tidak akan kau temukan di buku pelajaran sekolah.

Kalau di luar negeri kita berbicara tentang "peristiwa 1965 di Indonesia", yang dimaksud terutama bukanlah "PKI membunuhi jenderal" seperti yang kita tau di dalam negeri. Melainkan pembantaian, pemenjaraan, penyiksaan, dan pemerkosaan besar-besaran terhadap berjuta-juta orang yang "dituduh" komunis, tanpa pengadilan.

Cari sumbernya di internet. Melimpah ruah!

***

Ini kutipan dari orang yang sekarang memimpin negara yang (pernah) dikenal sebagai musuh bebuyutan komunisme:

"In 1965, under the leadership of General Suharto, the military moved against Sukarno, and under emergency powers began a massive purge of communists and their sympathizers. According to estimates, between 500,000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750,000 others imprisoned or forced into exile. It was two years after purge began, in 1967, the same year that Suharto assumed the presidency, that my mother and I arrived in Jakarta."

Barrack Obama
Tak terjemahin:
"Pada tahun 1965, di bawah pimpinan Jenderal Suharto, militer Indonesia mulai melawan Sukarno, dan dalam kekuasaan darurat memulai pembersihan terhadap orang-orang komunis dan simpatisannya. Menurut perkiraan, antara 500.000 hingga sejuta orang dibantai selama pembersihan, dan 750.000 lainnya dipenjarakan atau dibuang secara paksa [ke pulau Buru]. Dua tahun sesudah pembersihan dimulai, pada 1967, di tahun yang sama ketika Suharto menjabat presiden, saya dan ibu saya tiba di Jakarta"

Barrack Obama Dan masih ada bukan main banyaknya sumber untuk dipelajari di internet, di buku-buku, di majalah, bahkan sekarang ini di koran; bukan main banyaknya, melimpah ruah. Yang dibutuhkan cuma mau belajar, mau mencari kebenaran, mau melihat kebenaran, sedikit saja usaha, serta harga diri untuk menolak terus menerus dibodohi oleh buku-buku sekolah dan kata-kata penguasa.

Sekadar untuk membuat mata ini terbuka: Barang sedikit saja!






Minggu, 25 Maret 2012

JW for Joko Widodo

Biografi Jokowi (Joko Widodo)







Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008" oleh Majalah Tempo.
Asal Nama Julukan Jokowi
“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapikepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.
Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.
Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.


Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.
Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.


Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.
Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.
Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya.


Biodata Joko Widodo
Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:
  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985
Karir:
  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)
Penghargaan:
  • Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008"
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award
Selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya
  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia

Diambil dari biogarfi web
foto by google

Sabtu, 03 Maret 2012

Belajar dari semangat Cardiff City



Ada yang berbeda dari pertandingan dalam laga final Piala Carling Minggu lalu. Final piala carling tersebut menemukan tim kuat Liverpool dengan tim divisi dua Cardiff. Diatas kertas Liverpool dapat menang mudah. Terlebih lagi Liverpool main dengan kekuatan penuh. Piala Carling juga menjadi target Liverpool setelah dalam perburuan di liga Inggris terlempar di posisi 7. Cardiff tentunya datang bukan tanpa semangat dan harapan yang tinggi untuk meraih Piala Carling, meskipun lawan yang dihadapi adalah tim sekelas Liverpool.

Cardiff datang tanpa beban, beda dengan Liverpool yang harus memenangi partai final ini. Jika kalah mau dikemanakan nama liverpool yang begitu besar dan para liverpudlian, fans setia Liverpool. Dalam pertandingan itu Cardiff benar-benar menyajikan permainan yang cukup solid, semangat tinggi dan pantang menyerah melawan tim sekaliber Liverpool. Cardiff sempat unggul terlebih dahulu sebelum disamakan oleh gol Skrtel. Sepanjang pertandingan Crdiff digempur habis-habisan oleh Liverpool. Cardiff tetap tenang dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan Liverpool.

Pertandingan ini dilanjutkan dengan skor adu penalti, karena selama 90 menit kedua tim bermain imbang. Cardiff tim yang datang dari divisi 2 liga inggris mampu meladeni permainan agressive Liverpool. Maka saya sependapat dengan penyataan dari Bung Towel yang mengatakan "Apabila partai ini bukan final , Cardiff sudah dibantai oleh Liverpool, Tetapi apa yang dilakukan Cardiff ini adalah partai final, kita harus juara dan kita tidak boleh kalah kalau memang kalah , ya kalah dengan terhormat.

Cardif di perpanjangan waktu sempat ketinggalan oleh gol heroik Kyut, dalam sebuah pertandingan apalagi partai final gol itu tentu akan membuat mental pemain turun. Tetapi itu tidak bagi Cardiff, mereka bangkit dan kembali menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan dilanjutkan dengan adu penalti. Walaupun hasil akhirnya Cardiff kalah dan ini adalah pertandingan yang luar biasa hebat. Perjuangan tanpa kenal lelah yang diperagakan Cardiff mungkin dapat kita contoh dalam kehidupan kita sehari-hari. Perlu perjuangan, semangat dan kerja keras untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan..

Semangat dan Pantang Menyerah!!

pertanyaan aku kepada tuhan

jika kau merasa lelah dan hilang arah
yakinlah keadaan itu mengajarkan kepada kita untuk tetap tegar.
Bahwasaanya hidup memang tidak selalu mudah untuk di hadapi. Hidup selalu menjadikan kita belajar dan melewati sebuah proses untuk melangkah ke jenjang berikutnya.
Muncul sebuah pertanyaan yang sampai saat ini saya belum juga menemukan jawabannya
Mengapa Tuhan menciptakan kehidupan?
Mengapa adam digoda oleh setan dan memakan buah kuldi?
Padahal manusia pada hakikatnya hanya merusak bumi?
Belum lagi setan atau iblis yang diperbolehkan oleh Tuhan untuk menggoda manusia?
yang nanti akan berujung di neraka atau surga?

Mengapa dari sembilan planet yang ada, hanya bumi yang ada kehidupan?
ke 8 planet yang lainnya untuk apa?
bersujud kepada Tuhan?
Tuhan itu seperti apa?
Cahaya?
Mengapa Tuhan tidak menghendaki ke 8 planet itu ditinggali manusia dan makhluk hidup lainnya?
Lalu peneliti, ilmuwan atau apalah sebutannya berpendapat
ke 8 planet itu tidak mempunyai udara, air,
Kemudian muncul agama science?
besoknya ada saja yang atheis?

Minggu, 19 Februari 2012

Buruh dan Konspirasi Globalisasi

Globalisasi atau perdagangan bebas menurut orang-orang yang percaya adalah surga bagi manusia dan tidak dapat dicegah lagi kedatangannya. Bagi dunia industri, globalisasi adalah pintu gerbang untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Bagi beberapa perusahaan besar dunia meraup keuntungan hebat dari Indonesia. Beberapa brand dunia seperti Nike, Adidas, Giordano, GAP dan masih banyal lagi yang lainnya, memiliki pabrik di Indonesia. Itulah gambaran kecil perusahaan besar. Tetapi setelah ditelusuri ternyata dari sisi pekerja pabrik perusahaan besar yang memiliki tempat produksi di Indonesia tidak sama sekali merasakan bahwa mereka bekerja untuk sebuah perusahaan besar yang memiliki keuntungan yang sangat banyak dari apa yang mereka kerjakan di pabrik. Sangat miris keadaan para buruh yang mungkin tidak diberlakukan sebagai manusia dalam bekerja, lebih tepatnya para pekerja di berlakukan sebagai robot yang tidak bisa mengeluh terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.
Hidup para  buruh dari perusahaan besar dunia tersebut seperti tidak diperdulikan, mereka hidup sangat serba kekurangan. Bagi mereka para buruh upah rendah, setiap bulan mereka hanya dapat untuk biaya hidup satu bulan. Tetapi apa daya mereka para buruh tidak bisa berbuat apa-apa karena para bos-bos besar mereka mempunyai banyak uang  sehingga bisa membeli sistem hukum di Indonesia. Pemerintah sebenarnya mengetahui nasib para buruh yang semakin mencekik ini. Indonesia menjadi lahan basah bagi para negara kapitalis. Sehingga Pemerintah Indonesia lebih terlihat berpihak kepada orang asing yangt ingin meraup keuntungan di Indonesia. Berbanding terbalik dengan nasib para buruh yang menjadi korban dari kejamnya industri dan globalisasi.
Wacana globalisasi yang pihak barat gembor-gemborkan hanyalah sebuah konspirasi untuk membuat mereka meraup keuntungan melimpah dari pihak yang dapat di bodohi di Indonesia. Globalisasi yang didesain oleh negara-negara maju di eropa yang mengusung tema sentral buruh dan utang luar negeri. Hal ini menjadi wacana bagi dunia industri yang sudah berjalan prosesnya khususnya di Negara Indonesia. Berawal dari runtuhnya pemerintahan Soekarno yang percaya oleh ekonomi kerakyatan yang terkenal dengan sebutan Berdikari ditumbangkan oleh konspirasi Soeharto yang berkoalisi oleh pihak barat dalam hal ini Inggris dan Amerika membuat perjanjian khusus pada Soeharto agar rencana mereka untuk menguasai Indonesia dapat terlaksana dan juga dapat meraih keuntungan yang berlimpah dari negeri yang kaya akan sumber daya alamnya.
Bagi para buruh, globalisasi adalah sistem si kaya dan si miskin yang semakin membuat jurang perbedaan di antara kemajuan industri. Ternyata globalisasi sudah merupakan isu semata, ini terjadi karena krisis dan konflik yang banyak terjadi di Indonesia, semoga saja negara dan bangsa yang besar ini segera bisa keluar dari keadaan yang menjadikan kita tamu di negeri kita sendiri atau sebutan bagi pihak barat globalisasi dan kemajuan industri.


Minggu, 12 Februari 2012

sang - Pengemis

 Akhir-akhir ini di banyak kota, baik kota kecil, besar bahkan kota metropolitan pun tak lepas dari semakin suburnya peminta-minta alias pengemis. Mungkin karena kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan yang membuat mereka terpaksa berprofesi demikian atau memang sebagian dari mereka sudah diwariskan secara turun temurun. Ironis memang kalau Koes Plus bilang dalam lagunya Indonesia tanah air kita diibaratkan kolam susu (saking suburnya).
Tapi sayang oleh penguasa sendiri pun juga masih mewarisi sifat-sifat yang diturunkan dari sebagian nenek moyang dahulu yang punya hobby sebagai pengemis sehingga hutang negara kita pun semakin menggunung alhasil anak-cucu yang menanggungnya.
Betulkah sebagian orang-orang Indonesia  ada yang mempunyai hobby sebagai pengemis..?? , ternyata teka-teki ini ada benarnya kalau dirunut dari sejarahnya dulu, ceritanya begini :
Pada saat itu penguasa Kerajaan Surakarta Hadiningrat di pimpin oleh seorang Raja bernama Paku Buwono X, dimana para penguasa pada masa itu memang sangat dermawan serta gemar membagi-bagikan sedekah untuk kaum papa yang tak berpunya terutama menjelang hari Jum’at khususnya pada hari Kamis sore.
Pada hari Kamis tersebut Raja Paku Buwono keluar dari Istananya untuk melihat-lihat keadaan rakyatnya, dari istana menuju Masjid Agung, perjalanan dari gerbang Istana menuju Masjid Agung tersebut ditempuh dengan berjalan kaki yang tentunya melewati alun-alun lor (alun-alun utara), sambil berjalan kaki tentunya diiringi para pengawal sang raja, rupanya di sepanjang jalan sudah dielu-elukan oleh rakyatnya sambil berjejer rapi di kanan-kiri jalan dan sembari menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan kepada sang pemimpinnya.
Pada saat itulah sang raja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah dan langsung diberikan kepada rakyatnya berupa uang tanpa ada satupun yang terlewatkan dengan kebiasaan berbagi-bagi berkah tersebut mungkin juga warisan para penguasa sebelumnya (sebelum Paku Buwono X), ternyata kebiasaan tersebut berlangsung setiap hari Kamis (dalam bahasa jawanya Kemis), maka lahirlah sebutan orang yang mengharapkan berkah dihari Kemis dan diistilahkan dengan sebutan NGEMIS (kata ganti untuk sebutan pengguna/pengharap berkah dihari Kemis) dan pelaku-pelakunyapun biasa disebut Pengemis (Pengharap berkah pada hari Kemis).[1]
Namun kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya kata dasarnya bukan emis tapi Kemis (Kamis), ternyata sebutan peminta-minta kalah populer dengan istilah pengemis padahal kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis atau emis mungkin tidak dikenal dalam kosa kata bahasa indonesia kecuali kalau ada tambahan awalan pe sehingga muncul istilah “Pengemis”. Lain halnya dengan kata peminta-minta kata dasarnya adalah minta yang artinya jelas bahkan bisa berdiri sendiri tanpa ada awalan pe.
Jadi kalau boleh disimpulkan asal muasal kata atau perkataan pengemis berasal dari Surakarta atau Solo.




[1] Buku Khasanah Bahasa dalam kata per-kata ( Prof Gorris Keeraf)
foto by google